Refleksi Ingatan di Tanah Tabalong: Kala HMI Cabang Tanjung Menolak Lupa pada September Hitam

TANJUNG — Suasana senja di Tanjung mendadak sunyi. Di antara remang cahaya dan barisan busana serba hitam, puluhan kader Humpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tanjung melingkar, merawat nyala api yang tak boleh padam: ingatan akan dosa-dosa sejarah Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.

Melalui aksi simbolik memperingati September Hitam, ruang publik Tanjung diubah menjadi panggung refleksi. Puisi-puisi perlawanan ditiupkan ke udara, diselingi orasi puitis yang mengingatkan publik pada nama-nama yang dihilangkan dan keadilan yang belum menemukan rumahnya.

Bagi para mahasiswa ini, September bukan sekadar lembaran kalender yang berganti, melainkan monumen atas janji-janji penegakan hukum yang masih menggantung.

“Kami berdiri di sini bukan untuk meratap, tapi menolak lupa. September Hitam adalah pengingat bahwa kemanusiaan kita belum sepenuhnya merdeka selama kasus HAM masa lalu diabaikan,” tegaskan salah satu orator aksi di tengah kerumunan.

Pesan Tegas: Jaga Barisan, Tutup Celah Provokasi

Di balik tajamnya narasi tuntutan, kepemimpinan aksi menyoroti pentingnya menjaga kesucian gerakan. Imbauan keras disampaikan agar seluruh massa tidak mudah terombang-ambing oleh benturan kepentingan asing yang ingin memanfaatkan momentum ini.

Merawat Niat Awal: Massa diingatkan agar fokus pada substansi penegakan HAM dan tidak terdistraksi oleh isu liar.

Waspada Oknum Penunggang: Penyelenggara meminta kader saling menjaga pandangan dan barisan dari potensi provokasi pihak luar yang berniat merusak kondusivitas serta kedamaian di Kabupaten Tabalong.

Aksi yang dibungkus dengan khidmat dan estetika perlawanan tersebut berakhir damai, meninggalkan pesan mendalam bahwa di Tanjung, api keadilan masih dinyalakan oleh generasi mudanya.

banner 468x60 banner 500x90
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *