NEWSTUNTAS.COM, KALSEL – Di balik tembok tinggi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Batulicin, sebuah cerita tentang ketangguhan dan transformasi tengah terukir. Bukan sekadar rutinitas pembinaan, warga binaan pemasyarakatan (WBP) di sini menemukan makna baru dalam hidup melalui kegiatan yang tak biasa, kepramukaan.
Kisah mereka menjadi cerminan nyata dari tema besar Perkemahan Satya Dharma Bhakti Pemasyarakatan Tahun 2025: “Tangguh dalam Cobaan, Tumbuh dalam Pembinaan.”
Senin (23/06/2025) lalu, suasana di Lapas Batulicin terasa berbeda. Kepala Lapas, Arifin Akhmad, bersama pejabat struktural, petugas, dan 13 orang WBP, tampak khidmat mengikuti pembukaan Perkemahan Satya Dharma Bhakti Pemasyarakatan secara virtual.
Seluruh peserta, termasuk para WBP, mengenakan seragam pramuka, simbol komitmen mereka untuk menginternalisasi nilai-nilai luhur gerakan kepanduan di tengah masa pidana.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari (23–25 Juni 2025) ini merupakan inisiatif Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) yang berpusat di Lapas Kelas IIA Cibinong. Kehadiran para WBP dalam balutan seragam Pramuka menjadi pemandangan yang menginspirasi.
Mereka bukan hanya peserta, melainkan individu yang berjuang untuk bangkit, menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, kerja sama, dan rasa tanggung jawab yang menjadi esensi kepramukaan.
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas), Agus Andrianto, saat membuka acara, menegaskan bahwa kegiatan tahunan ini bukan sekadar rutinitas.
“Tangguh dalam cobaan, tumbuh dalam pembinaan bukan sekadar slogan, tetapi cerminan dari semangat warga binaan untuk terus berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat,” ucap Agus.
Beliau menekankan bahwa proses pemasyarakatan bertujuan membina WBP agar bangkit dan menjadi insan tangguh saat kembali berintegrasi dengan masyarakat.
Arifin Akhmad, Kepala Lapas Batulicin, menambahkan bahwa partisipasi aktif WBP dalam kegiatan kepramukaan ini adalah wujud nyata dari pembinaan berbasis karakter yang dilakukan secara berkelanjutan di dalam lapas.
“Melalui Gerakan Pramuka di lingkungan pemasyarakatan, kami berupaya menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, kerja sama, dan tanggung jawab sebagai bekal penting bagi WBP dalam proses pembinaan dan reintegrasi sosial,” ungkap Arifin.
Di balik jeruji, cobaan hidup mungkin terasa berat. Namun, melalui pembinaan yang terintegrasi dengan nilai-nilai kepramukaan, WBP Lapas Batulicin membuktikan bahwa mereka mampu tumbuh.
Kegiatan ini tak hanya meningkatkan kualitas kepribadian, tetapi juga menumbuhkan wawasan kebangsaan, nasionalisme, dan rasa percaya diri yang tinggi, bekal esensial untuk kehidupan setelah masa pidana berakhir. Lapas Batulicin terus berkomitmen menciptakan program pembinaan yang edukatif, transformatif, dan mempersiapkan WBP untuk berkontribusi positif di tengah masyarakat.








