TABALONG– Puluhan pemuda dan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam kolaborasi komunitas Rumah Pustaka, Wadah Babarakat, Forum Diskusi Mahasiswa (FORDISMA), dan HMI Komisariat Syekh Nafis menggelar diskusi publik bertajuk “Kampus sebagai Eskalator Sosial-Ekonomi”. Kegiatan yang berlangsung hangat ini menyoroti sejauh mana institusi pendidikan tinggi mampu menjadi mesin penggerak kesejahteraan bagi pemuda di Kabupaten Tabalong.
Diskusi ini berangkat dari keresahan kolektif mengenai fenomena lulusan perguruan tinggi yang masih terjebak dalam angka pengangguran. Para pemantik diskusi menekankan bahwa kampus seharusnya tidak hanya menjadi “pabrik ijazah”, melainkan benar-benar menjadi alat angkut atau eskalator yang memindahkan seseorang dari strata ekonomi rendah ke tingkat yang lebih mapan.
“Kampus jangan hanya jadi tempat persinggahan formalitas. Ia harus menjadi ruang inkubasi intelektual, perkuat skil kemapuan dan jaringan yang mampu mengubah nasib keluarga mahasiswa, terutama di daerah kita, Tabalong,” ujar salah satu perwakilan dari Demisioner Ketua FORDISMA dalam sesi pembuka.
Keunikan diskusi ini terletak pada kolaborasi empat organisasi pemuda yang berbeda latar belakang namun memiliki visi yang sama:
Rumah Pustaka: Menekankan pentingnya literasi sebagai fondasi berpikir kritis, kemudian harus sadar akan keadaan hari ini, dan mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan kedepan.
Wadah Babarakat: Mengawal nilai-nilai perjuangan, nilai-nilai spiritual dan pengabdian masyarakat.
FORDISMA: Memberikan perspektif bijak agar kita siap kedepannya dengan meningkatkan skill dan soft skill.
HMI Komisariat Syekh Nafis: Menyoroti aspek kearifan lokal dan jejaring sosial pemuda Bumi Saraba Kawa.
Penutup diskusi menggarisbawahi bahwa untuk menjadikan kampus sebagai eskalator yang efektif, diperlukan sinergi antara semangat mahasiswa, kualitas pengajaran, dan dukungan pemerintah daerah. Para pemuda yang hadir sepakat bahwa mereka tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pembangunan daerah, terutama dengan posisi Tabalong sebagai salah satu penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kegiatan ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk terus mengawal isu-isu pendidikan dan sosial di Tabalong melalui aksi-aksi literasi dan diskusi rutin di masa mendatang.





