WFA dan Tradisi Mudik 2026: Saat Lautan Menjadi Jembatan Rindu yang Kian Padat

JAKARTA, NEWSTUNTAS.COM – Kebijakan Work From Anywhere (WFA) yang diberlakukan pemerintah pada pertengahan Maret ini menjadi pemantik awal gelombang rindu yang lebih cepat. Ribuan pasang kaki mulai memadati pelabuhan-pelabuhan besar di penjuru Nusantara, menandai dimulainya ritual tahunan mudik Lebaran 1447 Hijriah yang diprediksi lebih masif dibanding tahun-tahun sebelumnya.

 

PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau PELNI mencatat, transisi gaya kerja fleksibel ini berdampak langsung pada lonjakan penumpang. Per 16 Maret 2026, sebanyak 278.530 tiket telah ludes terjual untuk periode keberangkatan arus mudik. Sebuah angka yang membuktikan bahwa laut tetap menjadi pilihan utama bagi mereka yang hendak pulang ke kampung halaman.

 

Sekretaris Perusahaan PELNI, Ditto Pappilanda, mengungkapkan bahwa antusiasme tahun ini mengalami tren kenaikan yang signifikan. Pada periode awal keberangkatan (6-15 Maret), realisasi penumpang mencapai 185.697 orang, naik sekitar 3,2 persen dari periode yang sama tahun lalu.

 

 

“Puncak kepadatan terjadi pada 11 Maret lalu dengan lebih dari 25 ribu penumpang, melonjak hingga 54,9 persen dibandingkan tahun lalu. Kami memprediksi puncak arus mudik akan terjadi pada H-3 Lebaran, atau tanggal 18 Maret besok,” ujar Ditto di Jakarta, Senin (16/3/2026).

 

 

Gaung kepadatan ini juga terasa nyata di pesisir Kalimantan Selatan. PT Pelni Cabang Batulicin melaporkan kesibukan luar biasa di dermaga setempat. Kepala Cabang PT Pelni Kotabaru/Batulicin, Anita Lestari, mencatat setidaknya 3.539 penumpang telah diberangkatkan dari Batulicin menuju sejumlah kota di Sulawesi dan Jawa.

 

 

“Hingga hari ini, total penumpang yang terangkut mencapai 3.539 orang dengan tujuan Surabaya, Pare-pare, dan Makassar. Keberangkatan terakhir dari Batulicin dijadwalkan tanggal 18 Maret nanti menggunakan KM Egon,” ungkap Anita.

Bacaan Lainnya

 

 

Bagi pemudik dari Batulicin, kapal laut bukan sekadar moda transportasi, melainkan ruang tunggu yang memisahkan antara rutinitas pekerjaan dan kehangatan meja makan di rumah. Keberangkatan KM Egon menuju Surabaya hingga Waingapu menjadi kesempatan terakhir bagi warga di Bumi Bersujud untuk bisa berlebaran di kampung halaman tepat waktu.

 

Menghadapi lautan manusia, aspek keselamatan menjadi harga mati. PELNI telah menyiagakan 25 kapal penumpang yang menyinggahi 75 pelabuhan di seluruh Indonesia. Rute Barat, khususnya Batam menuju Belawan, tetap memegang predikat sebagai ruas terpadat tahun ini dengan puluhan ribu penumpang yang sudah memesan tempat.

 

 

Manajemen PELNI juga telah melakukan serangkaian persiapan teknis, mulai dari workshop keselamatan bagi awak kapal hingga koordinasi ketat dengan BMKG untuk memantau cuaca ekstrem di tengah laut. Pengawasan di atas kapal diperketat untuk memastikan perjalanan yang menempuh ratusan mil laut itu berjalan tanpa hambatan.

 

 

Masyarakat pun diimbau untuk beralih ke saluran pembelian tiket daring lewat aplikasi PELNI Mobile atau berbagai kanal pembayaran digital guna menghindari antrean panjang yang melelahkan di pelabuhan.

 

 

Di tengah deru mesin kapal dan ombak yang memecah, harapan jutaan pemudik kini tertumpu pada armada-armada besi ini. Karena bagi mereka, mudik bukan sekadar angka statistik dalam siaran pers, melainkan perjalanan pulang menuju tempat di mana hati selalu tertambat.

 

 

banner 468x60 banner 500x90

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *